Minggu, 02 November 2008

"Tahun ke Tiga, Punya Rumah Sendiri Ya Mas!?"

Target dalam perkawinan memang perlu, tapi tetaplah bersikap realistis dan fleksibel.

Target punya rumah di tahun ketiga, di lokasi strategis pula, mungkin membuat sepasang suami-istri harus bekerja lembur "mengejar setoran", selain bekerja sampingan. Akibatnya begitu pulang ke rumah, hanya kelelahan yang tersisa. Suasana ranjang menjadi dingin karena masing-masing memilih untuk tidur. Masa-masa awal pernikahan yang harusnya berisi keceriaan dan keintiman, berbalik menjadi kepenatan tanpa henti. Kalau sudah begini, hubungan suami-istri bisa terancam.

Apa yang dialami pasangan suami-istri tersebut, tak lain karena mereka memasang target yang tidak realistis. Seperti dikatakan Ratih Ibrahim MPsi., "Banyak pasangan muda yang baru menikah bermimpi muluk-muluk sehingga memasang target yang terkadang tidak realistis. Harus punya rumah atau mobil di tahun kesekian tanpa memikirkan jumlah penghasilan. Memang kita perlu rumah, mobil juga bisa membantu aktivitas kita, tetapi semuanya harus realistis dengan tidak terlalu ngotot."

KECOCOKAN KEPRIBADIAN, TARGET UTAMA

Selain rumah dan mobil yang bersifat material, target-target yang lain juga perlu dipasang secara realitis, seperti target kecocokan kepribadian. "Ini perlu dibicarakan sejauh mana akan berkembang selama perkawinan. Sebab, banyak pasangan, terutama yang pacarannya lama, bersikap take it for granted. Mereka sudah merasa cocok secara kepribadian, tetapi lupa bahwa perkawinan adalah perpaduan dua kepribadian yang butuh penyesuaian terus-menerus. Makanya perlu ada rencana dan evaluasi," lanjut psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan UI ini.

Malah menurutnya �tanpa mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan material dalam perkawinantarget kecocokan kepribadian ini justru harus dikedepankan. "Pasanglah target selama misalnya lima tahun, karena pada lima tahun pertama inilah yang disebut struggling for life dalam kehidupan perkawinan. Bayangkan, yang tadinya hidup sendiri saja tak mudah, sekarang harus hidup bersama dengan orang lain yang sikap dan kebiasaannya berbeda. Pasti harus saling mencocokkan karena secocok-cocoknya kita memilih, pasti ada gap atau kesenjangan juga. Ini yang harus dikenali bersama."

Itulah mengapa Ratih menganjurkan agar kecocokan kepribadian dijadikan sebagai target utama setelah menikah. Pasanglah target yang realistis.

Misalnya, memperjelas dan mengurangi hal-hal apa yang boleh diperdebatkan oleh Anda dan pasangan. Bukannya meniadakan pertengkaran lo, karena dalam usia perkawinan berapa pun juga perbedaan pendapat pasti ada. Tujuannya supaya jangan sampai selama bertahun-tahun suami-istri selalu memperdebatkan hal-hal yang sepele saja.

JANGAN TERPAKU

Bagaimanapun, memasang target cenderung membuat orang terpaku pada target tersebut. Sehingga pada saat target tak tercapai, kita seringkali menyalahkan diri sendiri dan pasangan. Karena itulah, dalam memasang target, kita juga harus bersikap fleksibel. Apalagi dalam kehidupan berumahtangga seringkali ada hal-hal yang tak diduga terlibat. Adakalanya, tabungan untuk membeli rumah harus berkurang akibat hal urgent yang perlu didahulukan.

Semisal mertua perlu dirawat di rumah sakit sehingga membutuhkan bantuan. "Nah, tentu dana yang semestinya untuk rumah, harus disisihkan buat mertua. Jika suami-istri sejak awal mematok target yang tak fleksibel, tentu hal ini bisa memunculkan pertikaian karena pihak yang ingin membantu dianggap 'merusak' target."

LIBATKAN PASANGAN

Yang juga penting, rancanglah target itu bersama-sama, bukan sendiri-sendiri, "Sebab, target dan kemampuan suami-istri bisa saja berbeda," kata Ratih. Bila masing-masing pihak sudah mengemukakan keinginannya, maka akan terlihat perbedaan-perbedaan yang ada untuk kemudian dicari target yang paling realistis dari sudut pandang berdua.

"Lihat pula nilai kepentingannya, mobil atau rumah. Kalau mobil pertimbangannya apa, kalau rumah kenapa jadi prioritas. Sampai akhirnya ditemukan target yang paling pas. Bila perlu, minta saran pada pihak ketiga yang dianggap netral dan bijak. Toh, tujuannya untuk kepentingan rumah tangga."

Menurut Ratih, banyak pasangan yang bertahan bukan karena target mereka tercapai, tetapi lantaran mereka mampu menjalani pernikahan dengan playful, santai, dan tidak ngoyo. "Gairah dan cinta itu kan enggak selalu menyala terus, ada naik-turunnya. Nah, meski ada pasang surutnya, tetapi pasangan ini santai menjalani perkawinan karena tidak tegang menghadapi tuntutan-tuntutan, tidak dibebani target, baik terhadap dirinya, terhadap pasangannya maupun terhadap perkawinan itu sendiri. Dikejar-kejar target kan malah jadi kelelahan, baik lelah fisik maupun mental."

Meskipun demikian Ratih tidak mengesampingkan adanya target bisa membantu pasangan mewujudkan impiannya. "Dengan target, kita jadi lebih giat bekerja karena harus mewujudkannya. Saya enggak yakin ada orang yang hidup tanpa rencana, yang benar-benar tidak punya target apa pun. Meskipun tampaknya cuek, di bawah sadarnya pasti ada harapan dan impian. Yang membedakan pasangan ini bisa rileks tanpa ngoyo mengejar target adalah mereka umumnya menetapkan target yang realistis dan bersikap fleksibel agar bisa tetap nikmat menjalani perkawinan."

GAMBARAN TARGET PER TAHUN

Menurut Ratih, ketika hendak menikah, target sebaiknya sudah dirancang. "Target boleh saja direncanakan untuk membantu kita menjalani perkawinan. Kita jadi tahu, apa sih kebutuhan kita dan kapan serta bagaimana kita mewujudkannya."

Setiap pasangan punya target yang berbeda-beda karena kebutuhannya pun berbeda-beda. Namun umumnya target-target itu adalah:

1. Tahun pertama: Konsolidasi sikap, kepribadian dan target finansial (tabungan, asuransi, dan lain-lain)

2. Tahun kedua: Punya anak

3. Tahun ketiga: Liburan bersama anak

4. Tahun keempat: Perabot rumah sudah lengkap

5. Tahun kelima: Rumah atau mobil (tergantung prioritas masing-masing pasangan) dan tabungan khusus sekolah anak.

Santi Hartono. Ilustrator: Pugoeh

Tidak ada komentar: