Minggu, 02 November 2008

Jika Ranjang Tak Lagi Hangat

Seks memang bukan yang terpenting dalam perkawinan. Namun tanpa seks,
apalagi di pasangan usia muda, perkawinan ibarat lauk tanpa garam.

"Banyak pasangan yang mengeluh, mereka mempunyai problem dalam urusan seksual. Padahal, bila dilihat usia perkawinannya masih muda, misalnya baru 3 sampai 5 tahun," kata konselor perkawinan Dr. Joanes Riberu.

Memang, kata Riberu, setelah perkawinan berjalan sekian tahun, potensi seks akan semakin menurun. Artinya, frekuensi melakukan hubungan intim semakin berkurang. "Penyebabnya macam-macam. Baik karena fisik atau psikis. Untuk fisik, misalnya, akibat penyakit atau cedera tubuh. Tapi bisa diatasi dengan beribat ke dokter. Yang susah, bila penyebabnya psikis." Misalnya, trauma atau sakit hati karena pernah dikhianati. "Meski sudah memaafkan, seringkali istri jadi enggan berhubungan intim lagi dengan suaminya karena trauma dengan ketidakjujuran suami."

Riberu juga tidak menafikan rasa bosan atau salah satu pihak punya perhatian yang lebih besar kepada hal-hal lain sebagai penyebab menurunnya ferkuensi. "Kita tahu betul, seks adalah salah satu potensi dalam rumah tangga." Nah, bila salah satu atau bahkan kedua belah pihak berfokus ke potensi-potensi lain yang ingin dikembangkan, misalnya karier atau bisnis, akhirnya menyedot potensi seksnya. Mereka tak akan punya fokus lagi untuk seks karena terlalu sibuk oleh hal-hal lain. "Bahkan mereka malah melihat kegiatan seks sebagai penghambat. Hasilnya, pelan-pelan gairah seks pun menjadi kendor."

TERKAIT EMOSI DAN AKAL SEHAT

Seks, menurut Riberu, penting dalam sebuah perkawinan. "Paling tidak, melalui seks, keturunan manusia dapat berlangsung terus. Manusia, kan, dikaruniai gairah yang merupakan dorongan alamiah. Ini, kan, butuh penyaluran lewat kegiatan seksual."

Jadi, jika seks tidak lagi jadi kebutuhan berdua, harus jadi perhatian dan dicarikan jalan keluar. "Jika tidak, bisa menyimpan bom waktu. Sebab, gairah inilah salah satu unsur pemersatu suami-istri. Kalau sudah dingin, rumah tangga berjalan timpang."

Itulah sebabnya, jika ada masalah, apalagi kalau salah satu pihak merasa dirugikan karena berkurangnya potensi seksual, harus cepat-cepat mencari solusi. "Jangan ditunda-tunda, karena seks dan perkawinan tak dapat dipisahkan."

Beruntung sekarang banyak sekali lembaga psikologi dan bimbingan konseling, juga dokter ahli seksologi yang bisa membantu menangani hambatan-hambatan seksual dalam perkawinan. "Jangan malu untuk bertanya untuk menyelamatkan perkawinan. Sempatkan datang berdua untuk mencari solusi. Hubungan suami-istri yang baik adalah yang masing-masing pihak tidak egois, rela untuk mencari solusi bersama bila salah satu ada kendala atau kegagalan. Baik itu seks, maupun soal-soal ini di dalam berumah tangga."

Kalau masalahnya fisik, pergilah ke dokter ahli yang memang mempunyai spesialisasi untuk menangani hambatan seksual. Sebaliknya, jika penyebabnya psikis, perlu dicari tahu lebih dulu, apa penyebab utamanya. "Misalnya, istri yang menolak suaminya. Ternyata setelah diteliti, dia merasa dikhianati oleh suaminya. Ingat, masalah seks, bukan melulu hubungan badan tapi juga terkait dengan emosi dan akal sehat." Dengan demikian, bila salah satu merasa dibohongi, bisa mengancam gairah seksual pasangannya, yang pada akhirnya membuat hubungan seks menjadi hambar bahkan hilang sama sekali. Sebaliknya, yang menyeleweng pun bisa terhambat gairahnya, bila rasa bersalahnya besar.

"Semua kecenderungan pada manusia, kan, diatur oleh akal sehat. Termasuk soal seks. Jadi, walau ada rasa dan gairah,tapi bila akal sehatnya 'melarang', misalnya diingatkan pada sakit hatinya karena ditipu atau dikhianati, bisa berpotensi kegagalan seksual."

Selain itu, lanjut Riberu, masalah seks adalah masalah kepercayaan. Bukan sekadar hubungan badaniah. "Intinya, naik ke ranjang adalah puncak dari hubungan intim suami-istri. Nah, untuk menuju ke puncak, ada banyak hal yang harus dibereskan terlebih dulu. Ciptakan suasana yang kondusif." Yang juga patut diingat, berbeda dengan pria, wanita tidak bisa bergairah tanpa conditioning. Dengan kata lain, sebelum berhubungan badan, wanita akan bergairah kalau sentuhan perasaannya sudah tune-in. Bebas dari rasa takut, khawatir, dan trauma.

Santi Hartono.Ilustrasi: Pugoeh/nakita

Tidak ada komentar: