Minggu, 02 November 2008

Lebih Banyak Curhat Pada Orang Ketiga

Sudah menjadi kebutuhan bagi manusia untuk didengarkan dan mendengarkan orang lain. Akan tetapi ketika pasangan lebih banyak curhat pada orang lain, bisa jadi ini ancaman bagi pernikahan.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang memilih curhat pada pihak ketiga dan bukan pada pasangannya. "Dari banyak penelitian, umumnya pria lebih senang curhat pada orang lain yang bukan pasangannya. Hal ini disebabkan sebagian pria tidak ingin diketahui pasangannya saat mengalami kesulitan. Ia tak mau dicap lemah, dan tidak ingin menambah beban pikiran pasangannya," ujar Dra. Clara Istiwidarum Kriswanto, MA dari Jagadnita Consulting, Jakarta.

Menurutnya, pria cenderung memilih curhat pada sahabatnya yang sejenis. Adapun hal-hal yang biasa di-curhat-kan pria pada sahabatnya tak lain seputar masalah-masalah praktis yang mengasah intelektualitasnya, atau hal-hal yang berhubungan dengan rutinitasnya sehari-hari. "Sedangkan untuk masalah emosional atau masalah yang sangat pribadi, rata-rata pria lebih suka memilih memendamnya sendiri. Kecuali kalau sahabatnya itu memang sangat dekat dan betul-betul bisa dipercaya. Intinya, pria memang tidak ingin menunjukkan kelemahannya pada orang lain saat ada masalah."

Sedangkan pada wanita, curhat sebenarnya bukan untuk mencari solusi. "Karena pada prinsipnya ia hanya ingin didengarkan. Tanpa perlu mendapat solusi pun ia sudah puas karena curhat-nya memang lebih ditujukan untuk melampiaskan emosi," ungkap Clara.

Lalu, apakah wanita senang curhat pada pasangannya? Pengalaman curhat ke pasangan yang kemudian selalu mendapat solusi praktis, seperti yang biasa dilakukan para pria, justru akan membuat para wanita berpikir dua kali untuk kembali curhat pada pasangannya. "Soalnya memang bukan itu yang dibutuhkannya," jawab Clara.

Itu pula yang menyebabkan wanita lebih memilih curhat pada pihak ketiga, yaitu orang lain yang dianggapnya bisa mengerti dan memahami dirinya. Menurut Clara, wanita lebih terbuka untuk menceritakan apa saja yang dirasakannya. "Dari hal-hal remeh, urusan dengan tetangga, anak, atau teman sekantor. Pokoknya, dari urusan dapur sampai urusan tempat tidur bisa saja diungkapkan."

WASPADAI DAMPAKNYA

Lalu apa saja dampaknya bila terlalu banyak curhat pada pihak ketiga? "Kalau curhat itu sebatas pada masalah-masalah ringan yang tidak akan mengganggu keutuhan rumah tangga, tentu saja masih bisa ditoleransi. Sebaliknya, bila yang di-curhat-kan adalah masalah berat, apalagi kemudian dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan besar, jelas tidak bijaksana dong," tandas Clara.

Berikut beberapa pihak yang biasanya dijadikan "langganan" ber-curhat. Siapa saja mereka dan bagaimana dampak yang mungkin timbul?

* Curhat pada teman sejenis

Salah satu dampaknya adalah tidak terjaminnya rahasia yang diceritakan. Bukan tidak mungkin masalah yang sangat pribadi sifatnya akan berkembang menjadi "gosip nasional" karena diceritakan pada orang yang salah. Sementara solusi yang diberikan pun belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

* Curhat pada teman lawan jenis

Bisa jadi niat awalnya memang sebatas ingin mendapat masukan dari sudut pandang lawan jenis. Namun risiko yang ditimbulkannya bisa jadi tak kalah dahsyat. Bermula dari sekadar curhat, kemudian muncul empati yang bukan tak mungkin lantas merebak menjadi benih-benih cinta dan berakhir dengan perselingkuhan. Runyam kan? Kalaupun si teman lawan jenis tempat curhat ini benar-benar tulus tanpa melibatkan emosinya, besar kemungkinan tetap saja akan memancing munculnya fitnah dari orang-orang di sekitar mengenai kedekatan mereka.

* Curhat pada kakak, adik, orang tua atau saudara

Besar kemungkinan tidak mendapatkan sudut pandang yang objektif. Disadari atau tidak, karena tali persaudaraan akan membuat mereka selalu saling membela. Penilaian yang tidak proporsional seperti ini tentu tak bisa diharapkan akan membantu menyelesaikan permasalahan yang ada.

* Curhat pada mertua

Dorongan curhat pada mertua muncul karena asumsi mertualah yang merupakan sosok yang paling bisa mengerti suami/istri. Namun tak banyak orang tua yang bisa bersikap objektif ketika harus menilai anaknya sendiri demi membela kepentingan menantunya. Bisa-bisa bukannya solusi yang didapat, tapi malah mertua yang ikut-ikutan menyalahkan si menantu yang memilihnya sebagai tempat bercurhat.

KENALI BATASAN CURHAT

Jadi, sejauh mana curhat boleh dilakukan pada pihak ketiga? Yang pasti, tukas Clara, kebiasaan menceritakan seluruh permasalahan rumah tangga pada pihak ketiga bisa dikategorikan sebagai kesalahan. "Karena bisa jadi solusi yang diberikan tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Bukankah hanya suami istri berdua yang tahu pasti duduk permasalahannya?" Alih-alih mendapatkan solusi, bisa jadi saran pihak ketiga itu malah makin merunyamkan masalah.

Intinya, tandas Clara, kepada siapa dan apa saja yang harus di-curhat-kan, tergantung pada apa permasalahannya dan bagaimana kondisi masing-masing. "Bisa jadi suatu saat memang butuh curhat pada pasangan, dan pada kesempatan lain justru butuh pihak ketiga." Saat membutuhkan orang lain sebagai tempat curhat, saran Clara, sebaiknya seleksi dengan ketat siapa yang akan dipilih. Apakah yang bersangkutan jujur, bisa dipercaya, mampu bersikap dewasa dan objektif, serta sederet kriteria positif lainnya. Jadi, pertimbangkan masak-masak sebelum membeberkan isi hati pada orang lain. Siapa pun dia yang jadi pilihan.

CERMATI TANDA-TANDA BAHAYA

Bila merasa keberatan pasangan curhat pada orang lain, tidak ada salahnya untuk mengatakannya secara terus terang. Katakan saja padanya, "Daripada curhat ke orang lain, padahal aku yang jadi topik pembicaraan, kenapa tidak bicara terus terang saja ke aku?" Dengan tahu apa yang ada di hati masing-masing, suami istri bisa mencari solusi demi kebaikan bersama." Tapi kalau memang yang di-curhat-kan pada pihak ketiga bukan hal-hal yang prinsip atau bukan masalah rumah tangga, ya boleh-boleh saja. Manusiawi sekali kok kalau sesekali ingin ngobrol lebih dalam dengan orang lain," ungkap Clara.

Namun "alarm" adanya bahaya yang mengancam ikatan perkawinan perlu diwaspadai kalau frekuensi curhat tentang kehidupan rumah tangga sudah begitu tinggi. Artinya, salah satu sudah lebih banyak mengungkapkan semua masalah yang dirasakannya pada pihak ketiga sampai-sampai tidak ada komunikasi sama sekali dengan pasangan. Kalaupun komunikasi masih ada, itu minim sekali.

"Bila sudah sampai di titik seperti ini sebaiknya segera introspeksi diri, bicarakan dari hati ke hati, 'Mau dibawa ke mana pernikahan tersebut?' Bila dirasa sudah tidak mampu mengatasinya, ada baiknya libatkan ahli, seperti penasehat pernikahan. Tentunya bila pasangan tersebut memang masih ingin mempertahankan ikatan pernikahannya," tandas Clara.

Tidak ada komentar: