Minggu, 02 November 2008

Perlukah nonton film biru?

Penting, sih, penting. Jika digunakan secara tepat dan dilakukan oleh suami-istri, justru bisa bermanfaat. Tapi ingat, jangan sampai kecanduan!

"Ih, jijik. Saya nggak mau nonton film gituan. Kalau sampai suami mengajak saya nonton, pasti akan saya tolak. Buat apa?" ujar Anggi, bukan nama sebenarnya, yang baru setahun menikah. Sementara Rini, juga bukan nama sebenarnya, malah bersikap sebaliknya. Ibu satu anak ini mengaku, gairahnya jadi meningkat setelah menikmati film jenis itu. "Saya sebetulnya bukan orang yang gampang bangkit gairahnya. Tapi setelah beberapa kali diajak nonton suami, entah kenapa, saya kemudian, kok, jadi bergairah. Sejak itu saya baru bisa menikmati hubungan seksual kami," papar wanita 34 tahun ini.

Memang, tak sedikit orang yang merasakan manfaat nonton film biru atau yang biasa dikenal dengan BF. Entah dalam soal peningkatan gairah atau dorongan seks maupun dalam hal variasi posisi dan gaya. Bahkan, ada yang bisa merasa terpuaskan hanya dengan nonton BF. Sebaliknya, tak sedikit pula orang yang tak suka BF, merasa jijik, dan bahkan terhina, atau malah menganggap pasangannya mulai "tak waras" karena mengajaknya nonton film jenis itu sebelum mereka berhubungan seks.

Jika Anda rajin menyimak rubrik konsultasi seks di sejumlah media cetak, cukup banyak pembaca yang mempertanyaan soal penggunaan BF ini. Umumnya, mereka cenderung memandang negatif dan menganggapnya sebagai film porno yang tak layak ditonton. Lantas, bagaimana sebenarnya?

BANGKITKAH GAIRAH

Dr. Boyke Dian Nugraha, DSOG, MARS tak mengelak, banyak pasangan merasa jijik melihat film biru. Tapi, "Kenyataannya mereka juga membutuhkan, kok!" tukas ahli kebidanan & penyakit kandungan yang belakangan lebih dikenal sebagai konsultan seks ini. Bahkan, sambungnya, data penelitian menunjukkan, hampir 97 persen remaja di Indonesia sudah pernah menontonnya. "Khususnya bagi pasangan suami-istri, masyarakat harus mulai belajar bahwa film biru tak selalu membawa dampak negatif." Dari situ, lanjut Boyke, "suami-istri bisa mendapatkan banyak manfaat untuk mengatasi kejenuhan hubungan mereka."

Menurut Boyke, ada beberapa syarat hubungan seks yang sehat. Yang nomor satu, seks harus dilakukan dalam ikatan perkawinan. Selanjutnya, dilakukan dengan cinta dan lewat komunikasi intim, serta dengan teknik dan variasi. Juga, harus ada keterlibatan emosi.

Agar gairah seks tetap bisa dipertahankan, dibutuhkan suasana hati atau mood. Jika pasangan sudah mengalami kejenuhan, maka mungkin perlu variasi. "Nah, film biru bisa dijadikan alternatif untuk membangkitkan mood pasangan," kata Boyke. Apalagi, seperti dikatakan Dr. Gerard Paat, MPH dari RS Sint. Carolus dalam kesempatan berbeda, "Film biru memiliki aspek perangsangan. Suami atau istri yang respon seksnya pelan, bisa dipercepat dengan menontonnya."

Boyke melihat, film biru diperlukan hanya sebagai bagian dari alat bantu. Sama halnya seperti melakukan hubungan seks dengan iringan musik, atau melakukannya di bawah lampu temaram, di kamar mandi, dan sebagainya. "Seks memang membutuhkan variasi tempat atau suasana, teknik, dan alat bantu untuk perangsangan. Nah, alat bantu ini bisa bermacam-macam, salah satunya film biru," jelas pengasuh acara konsultasi seks di sebuah radio swasta ini.

Selain itu, ia juga bisa menjadi sumber informasi. "Banyak pria yang sangat konservatif dan hanya 'main tembak langsung'. Nah, dengan melihat film jenis itu, ia akan mengetahui bagaimana cara berhubungan seks yang benar," kata Boyke.

JANGAN NYANDU

Kendati demikian, pasangan suami-istri tetap harus waspada dan sadar, bahwa tak semua film biru layak ditonton. Boyke menganjurkan, "Pilih film-film yang mempunyai alur cerita atau film yang memang menyajikan pendidikan seks. Jadi, tak semata menggambarkan hubungan seks, melainkan menggambarkan pula pentingnya misalnya foreplay, ruangan, atau musik pengiring saat berhubungan seks." Dengan begitu, orang bisa belajar betapa penting romantisme atau keterlibatan emosi dalam suatu hubungan seks. Dengan kata lain,bukan nafsu belaka.

Baik Boyke dan Gerard juga mengingatkan, "Jangan sampai menonton film biru menjadi candu!" Apalagi jika suami kemudian tak lagi mau berhubungan seks dengan istri, karena baginya film biru lebih menarik. Lebih celaka lagi, pria yang sudah kecanduan film biru, seperti diujarkan Boyke dan Gerard, akan lebih mudah berselingkuh. "Ada hubungan antara seringnya pria nonton film biru dengan kemungkinan ia berselingkuh," kata Gerard.

Lo, kok, bisa? "Pasalnya, apa yang dilihat suami di film, hampir 95 persen tak ditemukan pada istrinya," ungkap Gerard. Hal senada dikatakan Boyke, "Mungkin suami tak mendapatkan apa yang ia inginkan dari istrinya. Bisa saja karena istrinya terlalu konservatif. Nah, kebetulan suami bertemu dengan wanita lain yang bisa memenuhi keinginannya, akhirnya mereka berselingkuh."

Apalagi, sambung Gerard pada kesempatan terpisah, umumnya wanita tak begitu menyukai hubungan seks yang eksplisit. "Bagi mereka, itu bukan sesuatu yang menarik. Nah, jika suami berselingkuh dengan wanita yang mengerti keinginan pria, maka ia akan meniru apa yang dilihatnya di film dengan wanita teman selingkuhnya," tutur konsultan seks ini.

KOMUNIKASI DENGAN ISTRI

Begitulah, menonton film biru, kata ahli, boleh-boleh saja sepanjang dilakukan oleh pasangan suami istri. Tapi, itu pun hanya boleh dilakukan sesekali saja. "Jangan setiap kali mau berhubungan seks selalu menonton. Itu artinya sudah terobsesi!" tandas Boyke.

Selain itu, sebelum menonton, Boyke menganjurkan agar pasangan sebaiknya berkomunikasi lebih dulu. Jika istri menolak, suami harus bisa mengerti. Sebaliknya, istri juga harus menyadari bahwa pria memiliki fantasi-fantasi liar yang bisa terpenuhi lewat film sejenis itu. "Semua tergantung bagaimana kita menjalin komunikasi, kok!" tukas penulis buku seputar masalah seks dan organ intim ini.

Gerard pun sependapat, "Komunikasi memang sangat diperlukan sebelum memutuskan menonton atau tidak. Jika istri tak mau, ya, jangan dipaksa. Tentu istri juga harus toleran. Jika memang suami tak bisa terangsang tanpa melihat film biru, istri harus bisa mengerti. Yang penting, dibatasi hanya untuk meningkatkan mood saja."

JADI SALAH PERSEPSI

Hal lain yang harus diperhatikan, kata Gerard, suami-istri sudah harus tahu mana yang benar dan mana yang tidak sebelum menonton film biru. Soalnya, tak sedikit film jenis itu dibuat bukan dengan tujuan memperbaiki suatu hubungan seks yang kurang baik atau untuk menambah hubungan seks yang sudah baik. "Banyak, kok, yang dibuat hanya semata bersifat komersial. Oleh karena itu, pembuatannya pun tak ilmiah," ujar konsultan perkawinan ini.

Karena tidak ilmiah, lanjut Gerard, film biru bisa menimbulkan suatu persepsi yang keliru tentang salah satu aspek seksual, khususnya dalam hubungan seks pria-wanita. "Persepsi yang keliru ini bisa menimbulkan perilaku yang keliru pula," tandasnya. Misalnya saja, dalam film digambarkan, semakin besar ukuran alat kelamin pria, semakin jantanlah dia. "Akibatnya, setelah menonton, alat vital suami yang sebetulnya berukuran normal, bisa-bisa dianggap kurang oleh istri. Dan jika itu diucapkan istri di hadapan suami, jangan salahkan suami bila ia tersinggung dan harga dirinya hancur," kata Gerard.

Belum lagi, tambah lulusan FKUI ini, film biru juga bisa menimbulkan ide "bengkok" tentang hal-hal yang secara ilmiah sudah dibenarkan. Contohnya tentang ukuran penis yang sebetulnya tak berpengaruh terhadap kepuasan seks wanita. "Kepuasan seks wanita tak ditentukan dari besar-kecil ukuran alat kelamin pria. Tapi karena di film digambarkan begitu, istri jadi salah persepsi," ujarnya.

Selain tak ilmiah, banyak film biru yang dibuat dengan kualitas tak baik dan pengambilan gambar diatur sedemikian rupa hingga menimbulkan kesan hebat. "Dengan kata lain, ada unsur penipuan demi komersialisasi," papar Gerard.

Unsur positif dan negatif, memang selalu ada dalam setiap hal. Begitu pula pada film biru. Ia akan menjadi positif bila kita berangkat dari paradigma yang positif dan menggunakannya untuk hal-hal yang positif pula.

Hasto Prianggoro.Foto:Iman Dharma(nakita)

Tips Penting Sebelum Menonton

Sebelum menonton film biru, tips dari Boyke di bawah ini mungkin bisa membantu.
1. Pilih film yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Setidaknya yang memiliki jalan cerita mendekati realitas sehari-hari.
2. Libatkan pasangan dalam memilih film yang akan diputar.
3. Usahakan memutar setelah anak-anak tidur.
4. Ciptakan suasana santai selama nonton. Bila perlu, sediakan minuman atau makanan kecil saat menonton.
5. Tak perlu langsung mempraktekkan adegan yang dilihat.
6. Ingat, semua yang ditonton hanya adegan film. Jadi, jangan membanding-bandingkan dengan kenyataan.
7. Film biru bukan satu-satunya alat bantu untuk meningkatkan rangsangan atau gairah seks.
8. Film biru juga bukan satu-satunya yang dapat memberikan informasi tentang hubungan seks.

Memperbesar payudara, mungkinkah?(hehehe...)

Jangan gampang terbuai rayuan iklan. Ukuran payudara wanita dewasa tak dapat diperbesar lagi dengan cara apa pun. Hanya bisa dilakukan lewat operasi dengan efek samping yang tidak kecil.

Coba cermati betapa marak iklan memperbesar payudara belakangan ini. Pihak produsen menjanjikan aneka produk yang mampu memperbesar payudara dalam waktu singkat. Entah dengan mengoleskan krim, mengenakan bra khusus, minum pil, sampai menggunakan peralatan elektronik yang dirancang khusus. Soal waktu juga tidak tanggung-tanggung. Mereka menjanjikan sesuatu yang fantastis. Hanya dalam waktu 30 hari, bukti konkret sudah bisa diperoleh. Yang benar saja!

Penggunaan berbagai cara untuk membesarkan buah dada, tandas Dr. Ferryal Loetan, ASC&T, MMR, Sp.RM., sebetulnya sia-sia belaka. Menurut konsultan seksologi ini, "Payudara wanita dewasa tidak mungkin dapat diperbesar lagi dengan cara apa pun. Sedangkan pertumbuhan yang paling pesat dialami oleh remaja putri yang baru mengalami pubertas. Makanya, payudara akan terlihat mengalami pembesaran dan pengencangan pada umur 10-18 tahun. Pertumbuhan ini akan terhenti saat si anak telah tumbuh jadi sosok wanita dewasa. Saat itulah ukuran payudara tidak bisa diutak-atik lagi. Sama halnya dengan perkembangan penis pada anak laki-laki.

Pasalnya, jelas Ferryal, payudara dibangun oleh kelenjar dan jaringan halus yang tidak bisa "dilatih" supaya membesar. Adapun kelenjar yang menyusun payudara adalah kelenjar susu. Kelenjar ini hanya akan aktif bekerja selama masa kehamilan guna mempersiapkan tubuh si ibu memproduksi ASI. Saat itulah kelenjar-kelenjar tersebut penuh berisi susu yang menyebabkan membesarnya ukuran payudara. Tak heran jika ukuran payudara wanita saat hamil lebih besar daripada biasanya.

Sementara jaringan yang paling banyak menyusun struktur payudara adalah jaringan lemak dan jaringan ikat. Jaringan-jaringan halus inilah yang menopang payudara tadi. Berbeda dengan jaringan otot yang banyak terdapat pada kaki dan tangan sebagai anggota gerak tubuh, jaringan ikat dan lemak sama sekali tidak bisa dilatih supaya membesar. Konkretnya, jika otot lengan bisa dilatih dengan cara angkat beban supaya membesar, maka otot-otot payudara tidak bisa dilatih dengan cara yang sama supaya menjadi besar.

Tak heran jika payudara sudah kendur akan tetap kendur alias sulit sekali untuk mengencangkannya. Kendurnya payudara ini menunjukkan jaringan ikat dan jaringan lemak yang menopangnya sudah tidak bisa menyangga beban payudara.

FAKTOR PENENTU

Secara umum, jelas Ferryal, besar kecilnya ukuran payudara ditentukan oleh beberapa faktor. Di antaranya faktor ras dimana memang ada ras/suku tertentu yang kaum perempuannya dikenal memiliki buah dada yang cukup besar. Wanita Asia umumnya memiliki payudara yang relatif kecil. Sebaliknya, ras Kaukasia dikenal memiliki payudara cukup besar. Namun seiring dengan aspek globalisasi dengan banyaknya perkawinan antarras, faktor ras agaknya sudah tidak lagi menentukan besar kecilnya buah dada. Buktinya, tidak sedikit wanita Asia yang memiliki buah dada besar.

Faktor penentu berikut adalah faktor genetik. Artinya, ukuran payudara seorang ibu akan menurun pada anak perempuannya. Dengan demikian, dari seorang ibu yang memiliki buah dada besar, kemungkinan besar anak-anak perempuannya pun memiliki ukuran payudara yang relatif besar pula.

Kendati begitu, faktor lingkungan dan pelatihan juga ikut berpengaruh. Seorang atlet renang umumnya memiliki payudara relatif besar karena bidang dadanya pasti lebih lebar mengingat sering tertarik oleh gerakan-gerakannya saat berenang. Sebaliknya, penderita asma biasanya memiliki buah dada lebih kecil dibanding ukuran asli/semestinya. Kondisi ini merupakan akibat tak langsung dari bentuk toraks/dadanya yang relatif kecil. Selain oleh kebiasaannya menarik napas secara dalam.

OPERASI SEBAGAI SOLUSI?

Selain meragukan efektivitasnya, Ferryal juga mengkhawatirkan dampak negatif dari berbagai upaya pembesaran payudara yang marak diiklankan di berbagai media. Salah satu yang paling dikhawatirkannya adalah cara vakum. Metode ini mengklaim bisa membesarkan payudara dengan cara menyedot jaringan-jaringan payudara menggunakan alat khusus. "Untuk jangka pendek, upaya ini mungkin akan berhasil karena jaringan akan terpompa dan payudara ikut membesar," ujar Ferryal memberi komentar. Sedangkan untuk jangka panjang, ia justru meragukannya. "Bagaimana mungkin? Sebabnya, begitu vakum dilepas, seluruh jaringan yang membentuk payudara akan kembali ke ukuran aslinya. Payudara pun akan kembali mengempis."

Demikian juga dengan berbagai krim yang banyak ditawarkan di pasaran. Ferryal mengingatkan konsumen untuk benar-benar mempertanyakan efeknya. "Apa iya bisa memperbesar ukuran payudara? Padahal krim-krim tersebut hanya bekerja pada bagian luar payudara dan tidak bisa menembus jaringan payudara. Sedangkan sebatas mengencangkan payudara sih mungkin saja," tuturnya.

Ferryal tak memungkiri bahwa operasi merupakan salah satu upaya pembesaran payudara yang "aman". Menyuntikkan silikon ke payudara sudah banyak ditinggalkan orang karena risikonya yang sangat besar. Pasalnya, silikon tersebut sewaktu-waktu bisa pecah lalu merembes masuk ke pembuluh darah yang kemudian bisa menyebabkan keracunan pada tubuh. Keracunan ini bisa menghancurkan sel-sel tubuh yang dalam tahap selanjutnya dapat memicu terjadinya kanker. Itulah mengapa Ferryal kembali mengingatkan konsumen agar mencurigai lembaga kecantikan ataupun oknum tertentu yang menawarkan operasi silikon.

Operasi yang dianggap cukup "aman" untuk memperbesar payudara adalah operasi saline. Lewat operasi, model/bentuk dan ukuran payudara bisa didesain sedemikian rupa tergantung selera yang bersangkutan. Yang patut diperhatikan, orang yang melakukan operasi haruslah orang yang benar-benar ahli dalam bidang operasi plastik karena tidak setiap orang bisa sembarangan melakukannya.

Caranya, serupa dengan silikon, cairan saline dimasukkan ke dalam bungkus tertentu lalu dipasang di bagian payudara. Meski dianggap lebih "aman" ketimbang silikon, sampai sejauh ini penelitian lanjut mengenai efek samping cairan ini belum ada. Jadi, kalau mau menempuh cara ini pun ada baiknya pikirkan kembali dampak merugikan yang mungkin timbul.

MESTI RAJIN MERAWAT

Meski pembesaran payudara bisa dilakukan lewat operasi, tapi Ferryal menegaskan setiap pasangan suami-istri hendaknya mensyukuri ukuran payudara yang dimiliki sang istri. Karena yang terpenting adalah bagaimana merawat dan menjaga payudara tersebut agar tetap kencang.

Selain itu, ukuran payudara juga tidak selalu identik dengan daya tarik seksual pria. Bicara soal ukuran, toh selera laki-laki dalam hal ini juga tidak bisa disamaratakan. Ada laki-laki yang suka wanita berpayudara besar, tapi tidak sedikit pula yang menyukai wanita berpayudara kecil. Artinya, "Semua tergantung selera masing-masing." Jadi, hanya jika ukuran kecilnya payudara istri sudah jadi masalah urgent dalam keluarga, operasi saline bisa jadi alternatif.

Ferryal menganjurkan pula agar setiap wanita hendaknya merawat payudaranya sebaik mungkin. Sejak usia pubertas, orang tua wajib mengajarkan pada anaknya bagaimana menjaga kebersihan dan merawat organ-organ seksualnya. Termasuk penjelasan kepada anak perempuan bagaimana caranya menaruh kepedulian besar pada payudara. Saat payudara mulai tumbuh dibutuhkan penyangga yang tepat untuk menopangnya. Pemakaian bra yang tepat dan cocok akan membuat payudara tumbuh semestinya dan membantunya agar tidak cepat kendur.

Saeful Imam. Ilustrator: Pugoeh


BONUS : Silahkan Liatin prakteknya disini (hanya sebatas ilmu dan bukan porno!)

atau disini......