Minggu, 02 November 2008

Meramal usia perkawinan

Ternyata, usia perkawinan yang sudah terbilang lama bukan jaminan perkawinan tersebut akan langgeng. Mengapa?

Ketika artis terkenal, Dewi Yul, memutuskan bercerai dari suaminya, Ray Sahetapy, banyak orang terkejut. Di mata masyarakat, perkawinan mereka yang telah membuahkan empat anak itu tampak adem-ayem dan sepi dari gosip. Siapa sangka, setelah 24 tahun bersama-sama menjalani manis-pahitnya biduk perkawinan, akhirnya pasangan ini pun berpisah.

Memang, tak ada yang bisa meramal usia perkawinan, apakah bakal langgeng atau putus di tengah jalan. "Perkawinan itu, kan, proses perjalanan panjang hidup bersama. Kalau di dalam proses itu tak ada kesepakatan, ya, bisa saja putus di tahun berapa pun. Bahkan di tahun ke-40 yang nyaris kawin emas. Jadi ada yang sukses berproses, ada yang gagal," ungkap Drs. Monty P. Satiadarma, MS/AT,MCP/MFCC, seorang terapis keluarga.

Lebih jauh dijelaskan Monty, menikah secara mudah diartikan sebagai persatuan dua pribadi yang berbeda. Konsekuensinya, akan banyak terdapat perbedaan yang muncul saat menjalani perka-winan. "Satu hal yang sering kurang disadari oleh orang yang menikah adalah bersatunya dua pribadi bukanlah persoalan sederhana. Setiap orang mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri dan latar belakang yang seringkali sangat jauh berbeda, entah latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal ataupun pengalaman pribadinya selama ini.Makanya perkawinan adalah proses untuk menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut."

Berdasarkan itulah, kesuksesan perkawinan ditandai bukan hanya oleh berapa lama hubungan tersebut terjalin, tapi juga intensitas perasaan yang dialami dua orang yang menjalin relasi perkawinan. "Bisa saja di tahun ke-5, proses sharing sudah enggak jalan. Yang ada cuma kekesalan dan kekecewaan. Perkawinan tidak lagi nyaman, tinggal tunggu satu pemicu saja, maka semuanya akan berakhir," tandas psikolog yang menjadi Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara ini.

PERKAWINAN SEMU

Jadi, mengukur sukses-tidaknya sebuah perkawinan tak bisa semata-mata berpatokan pada lamanya usia perkawinan saja. Apalagi seperti dibilang Monty, di Indonesia, lamanya perkawinan bukanlah ukuran sukses perkawinan tersebut. Banyak pasutri yang menghindari perceraian meski perkawinannya jelas-jelas sudah "ambruk"!

Bagi masyarakat timur yang masih memegang tradisi keluarga, kata Monty, perkawinan adalah bukti komitmen dan perceraian dianggap hal yang tabu. Akibatnya, jika mereka bercerai juga, maka kredibilitasnya akan turun. "Sedapat mungkin mereka mempertahankan karena perceraian mengubah status sosial dan finansial seseorang."

Belum lagi masalah anak yang dipikirkan dampaknya bila orang tua harus bercerai. "Tak sedikit orang tua yang menunda perceraian hingga anak-anak menjadi dewasa dengan anggapan, mereka akan lebih mudah menerima perceraian orang tuanya."

Akibat sudah tak sejalan, tetapi karena ngotot mempertahankan perkawinan demi tuntutan masyarakat, akhirnya yang terjadi adalah perkawinan semu. "Ini yang disebut dengan superficial marital relationship. Hidup dalam ikatan yang sah, tapi masing-masing pihak sebenarnya sudah jalan sendiri-sendiri. Mungkin sempat menjalani kehidupan harmonis sekian tahun, selebihnya menjadi pribadi yang asing satu sama lain. Perkawinan diteruskan hanya sebagai upaya memenuhi tuntutan sosial."

Kesuksesan suatu perkawinan, menurut Monty, harus dilihat dari sejauh mana pasutri merasakan kepuasan hubungan perkawinan pada sebagian besar waktu yang dilalui dalam ikatan perkawinan. Apakah keduanya merasa yakin dan percaya bahwa kebutuhan fisik, emosional, dan psikologisnya terpenuhi dalam kebersamaan dengan pasangan? "Yang sudah menjalani sampai 30 tahun lebih pun belum pernah diteliti, apakah betul mereka menjalani kebersamaan secara terus-menerus dengan sesungguhnya. Mungkin sekian tahun pertama, penuh cinta dan harmonis. Selebihnya, cuma status sosial saja yang mengatakan bahwa mereka menikah," kata Monty mengakhiri.

KESENJANGAN MENJADI POTENSI KONFLIK

DARI penelitian ditemukan, indikator umum yang terkait dengan kesuksesan perkawinan adalah faktor kesenjangan. Entah dalam hal berpikir, budaya, penghasilan, dan sebagainya. "Misalnya, si istri seorang sarjana sementara suaminya tak sekolah. Awalnya berjalan romantis, tapi lama-lama si suami ini kalau diajak ngomong, kok, enggak nyambung. Akhirnya, salah satu dari mereka jadi "gerah" dan minta cerai karena komunikasi sudah tidak jalan," papar Monty.

Namun, meski kesenjangan berpotensi mengancam keutuhan perkawinan, bukan berarti pasutri yang sejak semula banyak perbedaan, lalu bakal bercerai di kemudian hari. "Perkawinan adalah suatu dinamika. Jika selama proses perkawinan, kesenjangan-kesenjangan yang muncul sejak awal dan selama perkawinan bisa diterima dan ditolerir, ya, perkawinan bisa jalan terus." Sebaliknya, ada yang dari awal, pasangan itu dinilai bibit, bebet, bobot-nya sudah oke, ternyata cerai juga. Memang, pada akhirnya, jodoh adalah rahasia Yang Maha Mempertemukan meski semua pasangan tentu bercita-cita melewatkan kawin emasnya.

KUNCI SUKSES PERKAWINAN AWET

KALAU kita menyaksikan pasutri yang mampu bertahan sedemikian lama dalam perkawinan, tentu kita iri dan ingin mengikuti resepnya. Menurut Thomas Rice, dalam bukunya, Intimate Relationship, Marriages and Families, ada beberapa hal yang bisa mengawetkan hubungan suami-istri, yaitu:

* Komunikasi

Yang dimaksud bukan sekadar berbicara, tapi juga mendengarkan. Bila Anda sudah mulai malas mendengarkan pasangan berbicara, berarti Anda telah kehilangan komunikasi.

Tunjukkan sikap yang baik dalam berkomunikasi, yaitu mendengarkan pasangan berbicara sampai selesai, sebelum Anda mengutarakan pendapat Anda sendiri. Ingat, perkawinan adalah timbal-balik di antara dua orang. Semua pihak ingin punya kesempatan berbicara dan hak untuk didengar.

* Kejujuran

Banyak pasangan mengaku, kejujuranlah yang membuat perkawinan mereka bertahan lama. Memang, mengakui dengan jujur kesalahan dan kekhilafan, tak jarang pahit didengarkan, tapi kejujuran akan menyelamatkan hubungan.

* Saling Menghargai

Hubungan perkawinan yang sukses memandang pasangannya sederajat (equal). Jalani perkawinan dengan saling menghargai satu sama lain.

* Saling Percaya

Jangan menghabiskan pikiran untuk terus-terusan tegang dan curiga pada pasangan. Jika suami terlambat pulang dengan alasan lalu-lintas macet, buat apa selalu menjadikannya bahan kecurigaan? Janganlah kecurigaan kecil menjadi ancaman dalam perkawinan.

* Pasangan Adalah Teman

Jadikan pasangan Anda sebagai teman saat suka dan duka, sebab cinta yang awet membutuhkan persahabatan, bukan sekadar emosi.

* Humor

Percintaan yang diselingi humor akan menyejukkan suasana. Jangan ragu untuk tertawa bersama pasangan, termasuk menertawakan hal-hal yang remeh sekalipun.

* Kompromi

Apa yang Anda inginkan darinya dan apa yang dia inginkan dari Anda, perlu dikompromikan untuk mencapai keseimbangan. Seringkali ada hal kecil yang harus dikorbankan untuk memperoleh kebahagiaan.

* Saling Memaafkan

Hubungan perkawinan tak akan langgeng bila salah satu pihak menyimpan dendam. Berilah maaf, jangan menyimpan dendam.

* Cinta

Tumbuhkan perasaan cinta pada pasangan, karena sampai kapan pun, manusia hidup butuh dicintai dan mencintai.

* Doa

Mohonlah berkah dan kemurahan hati-Nya agar cinta dan perkawinan Anda selalu berjalan mulus dan langgeng.

Santi Hartono. Ilustrator: Pugoeh

SEPULUH Kesalahan Jatuh Cinta

Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Biasanya orang yang sedang jatuh cinta memang cenderung "buta". Tidak jarang orang yang sedang jatuh cinta melupakan hal-hal mendasar yang sebetulnya penting untuk diperhatikan.

Nah, berikut ini 10 uraian kesalahan yang kerap dilakukan ketika seseorang jatuh cinta :

1. Menciptakan hubungan asmara tanpa membangun persahabatan dengannya. Mungkin kita memang benar jatuh cinta secara mendalam padanya, tapi jangan lupa luangkan waktu sedikit banyak untuk mengetahui atau memperhatikan apa yang sesungguhnya ia inginkan atau ia perlukan. Sisihkan waktu untuk mempelajari kepribadiannya bukan hanya fisik semata.

2. Tidak jujur kepada diri sendiri. Seringkali orang yang sedang jatuh cinta memberikan batas toleransi yang berlebihan kepada pasangan. Mereka berpura-pura seolah-olah sikap pasangan bukan merupakan gangguan yang besar pada diri mereka atau mereka berharap agar masalah itu selesai seiring dengan berlalunya waktu

3. Tidak "memperhatikan" diri sendiri selama menjalin hubungan asmara. Banyak orang yang lupa "memperhatikan" dirinya sendiri selama menjalin hubungan asmara. Kebanyakan orang yang sedang dimabuk cinta ingin selalu berduaan dengan kekasihnya. Akibatnya orang-orang di sekitar mereka merasa diabaikan sehingga lambat laun tanpa mereka sadari teman-teman pun menjauh. Ini mempunyai akibat yang buruk di masa mendatang. kita akan dicap kuper dan bila kita sedang jenuh bersama sang kekasih, tidak ada seorang teman pun yang bersama dengan kita.

4. Menggantungkan kebahagiaan diri kita ke pasangan. Jika selama ini kita berpikir bahwa kebahagiaan kita bergantung pada pasangan, maka kita salah. kita boleh jatuh cinta pada siapa saja namun tidak berarti bahwa orang tersebut dapat membuat kita bahagia. Kebahagiaan diri kita bergantung pada kita sendiri dan jangan sesekali kita memusatkan seluruh hidup dan perhatian hanya pada satu orang saja karena jika demikian, berarti kita telah menutup wawasan dan kesempatan untuk menjadi lebih baik bagi diri kita sendiri.

5. Cinta membutuhkan waktu. Seringkali seseorang lupa akan point yang penting ini. Cinta selalu membutuhkan waktu, baik untuk mengenal maupun untuk bertumbuh. Terlalu cepat memulai suatu hubungan berakibat kurang baik karena mungkin kita belum mengenal dengan baik karakter pasangan, sebaliknya jika kita terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk meninggalkan pasangan hanya karena permasalahan sepele juga kurang bijaksana. Karena itu sebaiknya beri waktu yang cukup bagi diri sendiri untuk mengenal pasangan.

6. Terlalu fokus pada sex. kita harus menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang senang menjadi objek sex. Jangan jadikan sex sebagai prioritas suatu hubungan, sebaliknya jadikan sex hanya sebagai pemanis dalam hubungan berdua ( dengan catatan sex hanya bole di lakukan bagi mereka yg udah terikat oleh pernikahan) . Fokuskan perhatian kita dalam membangun jalinan asmara yang solid bersamanya. Buatlah rencana yang jelas untuk masa mendatang.

7. Berkencan tanpa tujuan yang jelas. Kencan memang merupakan aktivitas yang seru dan menyenangkan, namun jika kita tidak mempunyai tujuan yang jelas dan tidak tahu apa yang kita cari atau kita inginkan maka cepat atau lambat hal ini akan membuat diri kita menjadi lelah baik secara fisik maupun mental. Jadi lebih baik tentukan dahulu apa yang kita cari dari suatu hubungan asmara dan apa yang kita inginkan dari calon pasangan.

8. Berprinsip bahwa sex dapat menyelesaikan semua masalah. Tinggalkan prinsip seperti ini. Walaupun kita bersedia menyerahkan diri kita seutuhnya kepada pasangan, tidak menjamin bahwa pasangan akan setia atau tidak akan meninggalkan kita. Segera ubah pola pikir kita. Jangan biarkan diri kita dibodohi dengan iming-iming jika kita bersedia melakukan hubungan sex maka pasangan akan semakin mencintai kita. Itu justru membuktikan bahwa pasangan tidak mencintai kita dan hanya menginginkan kesenangan semata.

9. Memprioritaskan kecantikan fisik. Ini juga merupakan salah satu hal yang kerap terjadi. Umumnya kecantikan fisik menduduki skala prioritas utama dari pada kecantikan batin. Padahal kecantikan batin jauh lebih bermanfaat dan tahan lama.

10. Kembali melakukan kesalahan yang sama. Pernahkah kita mengintrospeksi diri mengenai kegagalan asmara kita di masa lalu? Sebelum memulai hubungan yang baru, ada baiknya kita mengintrospeksi diri dan melihat kembali dimana kesalahan kita. Dengan mengetahui letak kesalahan, kita dapat belajar untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama .